Halo, blog!
Yey! Akhirnya, postingan kedua. Hehe. Berhubung aku lebih sering menulis di akun wordpress-ku, aku baru bisa menyentuh akun blogger ini sekarang. Template masih sederhana, widget juga belum diutak-atik. Tak apalah. Yang penting aku menulis :)
Yey! Akhirnya, postingan kedua. Hehe. Berhubung aku lebih sering menulis di akun wordpress-ku, aku baru bisa menyentuh akun blogger ini sekarang. Template masih sederhana, widget juga belum diutak-atik. Tak apalah. Yang penting aku menulis :)
Well, tulisan yang ini akan menceritakan tentang salah satu mimpiku. Mimpi menjadi seorang bunda yang bahagia. Umurku memang baru 23 tahun, tapi aku sudah membayangkan masa kehamilan, melahirkan, merawat anak-anak, mencintai mereka. Terkadang lucu dan aku sering menertawakan diriku sendiri. Mimpi ini terlalu sederhana atau terlalu tinggi? Entahlah, yang jelas aku menyukai mimpiku ini.
Blog wordpress-ku kuberi judul Langit, Laut, dan Bahagia. Mengapa? Salah satu alasannya, aku ingin menamai anak-anakku dengan tiga hal indah dalam hidup ini.
1. Langit
Aku pernah sekali menceritakan rencana menamai anak-anakku dengan nama-nama ini pada salah satu sahabat. Dan dia tertawa. Aku ikut tertawa. Aku sering kagum pada pikiranku. Mengapa bisa muncul ide ini. Hehe. Namaku artinya langit, Sora dalam bahasa Jepang berarti langit. Saat kuliah, aku mengoleksi foto langit di laptopku. Aku berhenti kapanpun aku mau, mengeluarkan handphone, menengadah ke atas, lalu jepret. Kusimpan di laptop dan setiap gambar kuberi caption, seperti koleksi diari langit. Lucu, tapi romantis menurutku.
Aku menyukai sisi romantis dalam diriku. Dengan bangga, dengan romantis, aku ingin menamai anak pertamaku dengan nama Langit. Dia akan menjadi langit untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Dia luas, biru, meneduhkan, menyejukkan, indah, menaungi, dan lembut. Langit terkadang mungkin mendung, menghitam, lalu hujan. Tapi setelah itu Langit akan menyediakan pelangi.
Aku ingin anakku menjadi seperti langit. Membuat hidup ayah bundanya indah.
Entah laki-laki, entah perempuan, aku ingin menamai anak pertamaku dengan nama Langit.
Aku pernah sekali menceritakan rencana menamai anak-anakku dengan nama-nama ini pada salah satu sahabat. Dan dia tertawa. Aku ikut tertawa. Aku sering kagum pada pikiranku. Mengapa bisa muncul ide ini. Hehe. Namaku artinya langit, Sora dalam bahasa Jepang berarti langit. Saat kuliah, aku mengoleksi foto langit di laptopku. Aku berhenti kapanpun aku mau, mengeluarkan handphone, menengadah ke atas, lalu jepret. Kusimpan di laptop dan setiap gambar kuberi caption, seperti koleksi diari langit. Lucu, tapi romantis menurutku.
Aku menyukai sisi romantis dalam diriku. Dengan bangga, dengan romantis, aku ingin menamai anak pertamaku dengan nama Langit. Dia akan menjadi langit untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Dia luas, biru, meneduhkan, menyejukkan, indah, menaungi, dan lembut. Langit terkadang mungkin mendung, menghitam, lalu hujan. Tapi setelah itu Langit akan menyediakan pelangi.
Aku ingin anakku menjadi seperti langit. Membuat hidup ayah bundanya indah.
Entah laki-laki, entah perempuan, aku ingin menamai anak pertamaku dengan nama Langit.
2. Laut
Laut akan menjadi anak keduaku. Laut selalu punya sesuatu untuk diselami. Dia akan memiliki kedalaman hati yang baik. Aku akan berusaha mengajari Laut untuk mencintai pantai hidupnya. Aku ingin Laut menjadi anak yang bersinar, seperti laut yang bersedia menyediakan sunrise dan sunset. Laut mungkin terkadang memiliki gelombang besar, bahkan badai. Tapi aku akan berusaha mengajarinya arti pengendalian diri yang baik, agar dia bisa tetap menjadi Laut yang tenang dan damai, namun tetap dalam.
Laut akan menjadi anak keduaku. Laut selalu punya sesuatu untuk diselami. Dia akan memiliki kedalaman hati yang baik. Aku akan berusaha mengajari Laut untuk mencintai pantai hidupnya. Aku ingin Laut menjadi anak yang bersinar, seperti laut yang bersedia menyediakan sunrise dan sunset. Laut mungkin terkadang memiliki gelombang besar, bahkan badai. Tapi aku akan berusaha mengajarinya arti pengendalian diri yang baik, agar dia bisa tetap menjadi Laut yang tenang dan damai, namun tetap dalam.
Laut juga akan belajar menciptakan riak-riak kehidupan yang menyenangkan, seperti buih-buih di pinggir pantai yang membahagiakan setiap orang.
Laut, anak keduaku, akan menjadi muara cinta ayah bundanya.
Laut, anak keduaku, akan menjadi muara cinta ayah bundanya.
3. Bahagia
Anak bungsuku akan kuberi nama Bahagia. Cita-citaku hidup berbahagia. Dan aku percaya, betul-betul percaya, Bahagia akan melengkapi kebahagiaanku dan suamiku kelak. Bahagia akan belajar bagaimana membuat hidupnya bermakna. Bahagia akan menjadi sosok penuh berkat Tuhan, yang dicintai orang-orang di sekelilingnya. Dia mungkin sedih, dia mungkin tidak bisa selalu tertawa, tapi aku yakin Bahagia akan belajar untuk dengan cepat dapat mengembalikan senyumnya. Anak ketigaku ini akan tumbuh menjadi sosok yang tulus.
Bahagia akan bahagia.
Anak bungsuku akan kuberi nama Bahagia. Cita-citaku hidup berbahagia. Dan aku percaya, betul-betul percaya, Bahagia akan melengkapi kebahagiaanku dan suamiku kelak. Bahagia akan belajar bagaimana membuat hidupnya bermakna. Bahagia akan menjadi sosok penuh berkat Tuhan, yang dicintai orang-orang di sekelilingnya. Dia mungkin sedih, dia mungkin tidak bisa selalu tertawa, tapi aku yakin Bahagia akan belajar untuk dengan cepat dapat mengembalikan senyumnya. Anak ketigaku ini akan tumbuh menjadi sosok yang tulus.
Bahagia akan bahagia.
Jadi, begini rencana penamaan anak-anakku.
(nama baptis) + Langit / Laut / Bahagia + (nama terakhir si ayah).
Hmmm, namanya juga perempuan romantis, mimpinya juga romantis dan kekanak-kanakan. Aku tidak tahu mimpi ini akan terwujud atau tidak karena aku bahkan belum menceritakan mimpi ini ke ayah dari anak-anakku kelak (entah siapa). Kuharap dia membaca tulisan ini dan menyuarakan pendapatnya. Hehe.
Aku juga tidak tahu kehendak Tuhan, apakah aku akan mendapatkan tiga orang anak atau tidak.
(nama baptis) + Langit / Laut / Bahagia + (nama terakhir si ayah).
Hmmm, namanya juga perempuan romantis, mimpinya juga romantis dan kekanak-kanakan. Aku tidak tahu mimpi ini akan terwujud atau tidak karena aku bahkan belum menceritakan mimpi ini ke ayah dari anak-anakku kelak (entah siapa). Kuharap dia membaca tulisan ini dan menyuarakan pendapatnya. Hehe.
Aku juga tidak tahu kehendak Tuhan, apakah aku akan mendapatkan tiga orang anak atau tidak.
Entah sang ayah setuju atau tidak, entah Tuhan mengizinkan mimpi romantis ini terwujud atau tidak, yang jelas nama Langit, Laut, dan Bahagia akan selalu hidup dalam hati calon bunda ini.
aaaah! Menulis postingan ini membuatku ingin segera memiliki buah hati!Sebaiknya kusudahi tulisan ini.
Selamat bermimpi, teman-teman. Mari berbahagia ^^
selamat bermimpi dan mewujudkannya..
BalasHapus