Aloha, Blog.
Ya ampun, sudah sekian abad rasanya tidak menulis di sini. Postingan terakhir 2019. Tiga tahun yang lalu. Selain tidak menulis di sini, aku memang sudah lama tidak menulis di mana pun. Bahkan di buku harian atau jurnal. Bahkan puisi. Padahal dulu aku rajin menulis puisi. Hehe. Dan tahu apa yang membuatku tergerak untuk menulis? Ada makhluk hidup di rahimku yang sekarang sedang rajin-rajinnya bergerak, memintaku untuk mengabadikannya dalam bentuk tulisan.
Karena apa yang bisa kubagikan selain tulisan? Panggil aku kuno di dunia yang serba audio visual ini (baca : Instagram, Tiktok, etc.), tapi sebagai introvert, aku merasa lebih leluasa bercerita dalam bentuk tulisan. SMA kuambil jurusan bahasa. Kuliah Sastra Indonesia. Hanya karena tiba-tiba sibuk bekerja menjadi staff akunting, disibukkan dengan teknologi bernama ponsel dan media sosial, kecintaan membaca dan menulis sedikit terkubur. Lalu, saat hamil Adek ini, aku jadi rajin membaca blog-blog lawas para blogger tentang kehamilan. Terasa menyenangkan. Karena merasa ada teman yang berbagi. Tulisan ini ditulis di sela-sela kegabutan di kantor. Mumpung belum closingan. Beberapa waktu terakhir aku juga mulai menulis jurnal lagi di sebuah buku harian. Kali ini jurnal khusus Adek Langit. Aku dan Bapak G mau menulis untuk dan tentang Adek, mungkin bisa kami hadiahi padanya di ulang tahunnya yang ke-17. Hehe.
Sebelum jauh bercerita tentang Adek Langit, mau sedikit curhat tentang kehidupan. Aku akhirnya menikah dengan laki-laki yang selama ini kuhadiahi puisi-puisi di blog ini. Setelah LDR Jakarta - Bali beberapa saat, kami menikah di Bali, kemudian arus hidup menyeret kami untuk mencari rezeki di Bandung. Dihamili pun di Bandung. Haha. Eh, atau di mana ya? Ya, pokoknya kehamilan ini kujalani di kota tempat kami menetap sekarang, di Bandung nu tiris pisan. Kami berdua sama-sama bekerja. Awal menikah, kami sebenarnya tidak buru-buru mau punya anak. Kami menikah sama-sama di umur 30 tahun. Mengingat umur, sebenarnya sudah sangat matang untuk punya anak. Namun kami berencana menjalani hidup berdua dulu. Tuhan berkata lain, kami dihadiahi anugerah indah dalam kehidupan perkawinan kami.
Pada 07 Mei 2022, aku sudah telat menstruasi dua hari. Hari itu hari Sabtu, Bapak G kerja. Aku libur. Sehari sebelumnya aku sudah membeli test pack. Aku sudah sangat merasa yakin bahwa aku hamil. Dan benar, garisnya dua.
Langsung kukabari suamiku, keluarga di Bali, dan keluarga di Klaten (Bapak G dari Klaten). Perasaanku? Dituliskan pun rasanya susah. Ada kehidupan lain dalam perutku. Terharu, bahagia, bingung, campur aduk. Sejak dulu aku memimpikan punya anak. Tapi ketika mimpi ini nyata, aku bertanya, siapkah aku? Bisakah aku jadi Ibu yang baik? Dalam semua perasaan yang teraduk-aduk, ada satu perasaan nyata yang kurasakan. Aku bersyukur. Berterima kasih pada Tuhan. Tuhan percaya aku bisa. Tuhan percaya aku mampu. Aku akan punya anak! Anakku, aku sudah jatuh cinta padamu sebelum kulihat wajahmu! (lagu Andien - Belahan Jantungku sudah jadi lagu favorit)
Aku juga bersyukur karena punya asuransi dengan maternity plan dari perusahaan tempat aku bekerja. Begitu hasil tes positif, aku langsung membuka daftar rumah sakit di Bandung yang bekerja sama dengan asuransiku. Pilihan jatuh ke RSIA Grha Bunda di Antapani. Bapak G nggak mau sama dokter kandungan laki-laki. Jadi aku menyesuaikan diri dan mencari-cari dokter kandungan perempuan yang available di waktu yang kami mau. Karena hari senin Bapak G libur kerja, kami pilih dokter di hari Senin. Karena senin aku kerja, mau tidak mau kami ke rumah sakit setelah aku pulang kerja. Dan dokter yang available saat itu adalah dr. Anita Rachmawati, Sp.OG, K-FER. Sebagai manusia yang cukup bergantung pada mbah Google, kusudah berselancar mencari review dokter ini. Sepertinya cukup bagus. "Dalam nama Tuhan Yesus ya, Nak, semoga dapat dokter yang baik," doaku saat itu.
Dan Senin, 09 Mei 2022, kami melihat anak kami for the first time 💙. Setelah pendaftaran, tensi dan suhuku diukur. Semuanya normal. Perawat bilang untuk menahan pipis dulu sampai saat bertemu dokter. Sebenarnya kandung kemihku sudah penuh, tapi kutahan demi Adek. dr. Anita sepertinya cukup populer karena aku harus mengantri banyak nomor sebelum bertemu bu dokter. Begitu masuk ruangan, aku menangkap aura yg lembut dan baik dari dr. Anita. Dan benar, dr. Anita keibuan dan menenangkan. Beliau cukup detail. Saat USG, dokter mengatakan kandung kemihku belum penuh jadi belum bisa dilakukan USG perut atau USG transabdomen. Pilihannya, aku disuruh minum lalu menunggu 15 menit, baru USG perut; atau aku segera pipis dan langsung dilakukan USG transvaginal. Sesungguhnya aku sudah kebelet dari tadi, ditambah tidak sabar menengok Adek Langit, jadi kuputuskan untuk USG transvaginal saja.
USG ini dilakukan dengan prosedur memasukkan stik probe ke dalam vagina. Dokter menyuruhku rileks saja. Walau sedikit tidak nyaman, rasa rindu ingin bertemu Adek membuatku lebih tenang. Dan Puji Tuhan, ini dia si kecil yang melambai-lambai dari dalam kantung kehamilanku 💙

Menurut hasil USG saat itu, Adek berumur 6 minggu. dr. Anita mengucapkan selamat atas kehamilanku. Janin tumbuh dengan normal di dalam rahim, bukan kehamilan ektopik. Dokter bertanya apakah beberapa waktu terakhir ada flek. Kujawab tidak. Dokter juga menanyakan bagaimana kondisiku. Apakah ada mual dan muntah. Kujawab tidak juga. Karena memang aku tidak merasa mual. Dokter menyuruh untuk memperbanyak konsumsi makanan sehat, sayur dan buah. Dilarang capek-capek atau beraktivitas berat. Dokter juga bertanya apakah saat ini sedang bekerja. Kuiyakan. Bapak G bertanya apakah ada pantangan makan selama hamil. Kata dokter, boleh semua, kecuali makanan mentah. Katakan selamat tinggal pada sushi, sashimi, lalapan yang tidak dicuci bersih, dan teman-temannya. Kujuga bertanya apakah masih bisa ngopi karena aku sangat suka ngopi. Bisa dua kali sehari. Kata dr. Anita, boleh. Asal tidak lebih dari 1 cangkir per hari. Konfirmasi dari dr. Anita juga sesuai dengan artikel yang kubaca. Kami juga bertanya, apakah boleh berhubungan seks selama hamil ini. Dokter bilang tahan dulu dua minggu ini. Nanti USG berikutnya kita lihat kekuatan dan perkembangan kandunganku. (Ashiap, bhaiqla, Dok!). Ngobrol beberapa saat, dokter akhirnya meresepkanku asam folat dan penguat kandungan dengan dosis untuk dua minggu. Kontrol selanjutnya kami lakukan di dua minggu berikutnya.
Saat tulisan ini diketik, Adek Langit sudah berusia 25 minggu. Bahasa awamnya sudah jalan 7 bulan. Jalanku sudah seperti bebek. Mengangkang kanan kiri dan bergerak slow motion. Mual muntah, asam lambung, sembelit, pinggang sakit dan pegal sudah kurasakan. Tapi perasaan paling bahagia adalah saat merasakan Adek Langit berkedut di perut untuk pertama kalinya. Sebelum guling-guling, joget, renang, dan jumpalitan dalam rahimku. Sensasinya amazing sekali kan, buibuk? Nanti lah ya di tulisan lain kuceritakan tentang suka
Terakhir, teruntuk Adek Langit, kalau nanti Adek sudah besar dan bisa membaca tulisan ini, Bapak sama Ibu berterima kasih sekali, Adek hadir dalam hidup kami. Hanya Tuhan yang tahu, kami sangat bahagia ada Adek. Ayo kita sehat bersama-sama ya, Nak.
Untuk Bapak G, Mas Bojo, terima kasih sudah menghamiliku! 😛

Tidak ada komentar:
Posting Komentar