Kalau ngisi TTL (Tempat, Tanggal Lahir) di biodata, aku nulisnya Kumai - Kalteng. Harus ada Kaltengnya, karena pada enggak tahu Kumai itu di mana. Kalau Bapak G nulis Klaten. Sebagian besar orang harusnya udah tahu sih Klaten di mana.
Tempat melahirkan Adek Langit juga sudah kami diskusikan. Ada beberapa pilihan. Tempat orangtuaku di Bali, di tempat kami tinggal sekarang; Bandung, atau di tempat keluarga Bapak G di Klaten. Kalau di Bali, aku senang sih, karena ada Mamak, lahiran dekat ibu kandung pasti nyaman kan ya. Cuman Bapak G kan kerja di Bandung. Kalau nanti lahiran, Bapak G nggak bisa sering nengok aku dan Adek. Jauh dan berat di ongkos 😥. Kasihan, kami nanti pasti saling merindukan.
Pilihan kedua, di Bandung. Kan bagus aja gitu ya, nanti Adek kalau ngisi biodata nulisnya di Bandung. Tapi setelah dipikir-pikir, kami ini perantau. Tidak ada keluarga di sini. Bisa sih mendatangkan orang tua ke sini, tapi pasti tidak bisa lama-lama, karena mertua ada pekerjaan yang harus diurus. Mamakku juga nggak bisa ninggalin Bapak lama-lama. Kalaupun tetap lahiran di Bandung, aku sudah mencari info biaya lahiran di rumah sakit Bandung. Harganya membuat aku dan Bapak G mengelus dada. Jadi kami putuskan untuk membatalkan niatan penulisan tempat lahir di Bandung untuk Adek Langit :')
Pikir-pikir, pilah-pilih, kami memutuskan untuk lahiran di Klaten saja. Biaya lahiran masih bisa ter-cover. Kalau memakai asuransi dan memilih kelas yang agak bagus, kami mungkin akan membayar biaya lahiran yang masih terjangkau. Selain itu, keluarga Bapak G pada di Klaten semua. Ramai dan ada yg menemani, sekaligus mengajari calon ibu baru ini. Selain itu, Bapak G masih bisa sering nengok. Seminggu atau dua minggu sekali bisa pulang untuk cium Adek. Naik kereta malam dari Bandung, subuh sudah sampai Klaten.
Setelah lihat daftar rumah sakit di Klaten yang bekerja sama dengan asuransiku, kumulai survey online. Tanya-tanya juga ke keluarga di Klaten. Akhirnya kami putuskan untuk lahiran di RSU Islam Klaten.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar