Senin, 03 Oktober 2022

Pilah-pilih Nama Adek

 Apalah arti sebuah nama.
"SANGAT BERARTI LAH!" sahutku dan Bapak G.

Dari dulu, aku mau nama anak pertamaku Langit. Tapi Bapak G tidak setuju. Aku mengalah. Selama di perutku, Adek namanya Langit. Tapi setelah lahir, kami harus siapkan nama untuk Adek yang kata dokter dan USG terakhir, 70% perempuan. Masih ada 30%nya dong, ya. Ada kemungkinan laki-laki juga. Untuk sementara ini, kami masih bertapa mencari nama perempuan terbaik untuk Adek.

Kami tidak mau nama yang ribet, yang pakai huruf konsonan double, yang bikin anak kami nanti riweuh nulis nama pas ujian. Kami mau nama yang sederhana tapi indah dan bermakna. Bapak G mau yang ada unsur bahasa Sanskertanya. Aku approved. Kami mau nama anak kami terdiri dari tiga kata. Kata pertama adalah nama baptis. Aku mengusulkan nama Nala. Kalau dalam bahasa Jawa dan Sanskerta, artinya jantung hati. Awalnya Bapak G setuju. Tapi setelah tahu nama Nala dipakai sebagai nama tokoh di kartun Simba, Bapak G ogah. (padahal kusuka nama Nala 😍). 

Bertapa lagi, cari-cari di mbah google andalankoe, Bapak G tidak yakin, jadi di suatu Malam Minggu kami jalan-jalan ke Gramedia membeli buku nama bayi. 


(maafkan bumilnya narsis)

Sejauh ini, aku sreg dengan beberapa nama seperti Hira (intan), Dahayu (cantik), Khandra (cahaya) dan Arundati (bintang di angkasa). Buliknya Adek juga mengusulkan nama Ayara (puisi). Sampai tulisan ini dipublish, kami belum memutuskan nama untuk disandang Adek. Sepertinya akan novena untuk pemilihan nama. HeheTapi sampai kapanpun, Adek adalah langitku. Yang meneduhkanku, yang biru dan indah, yang begitu kucintai. Doain Bapak Ibuk dapat nama terbaik untuk Adek, ya. 

Pilah-pilih Tempat Lahir

 Kalau ngisi TTL (Tempat, Tanggal Lahir) di biodata, aku nulisnya Kumai - Kalteng. Harus ada Kaltengnya, karena pada enggak tahu Kumai itu di mana. Kalau Bapak G nulis Klaten. Sebagian besar orang harusnya udah tahu sih Klaten di mana. 

Tempat melahirkan Adek Langit juga sudah kami diskusikan. Ada beberapa pilihan. Tempat orangtuaku di Bali, di tempat kami tinggal sekarang; Bandung, atau di tempat keluarga Bapak G di Klaten. Kalau di Bali, aku senang sih, karena ada Mamak, lahiran dekat ibu kandung pasti nyaman kan ya. Cuman Bapak G kan kerja di Bandung. Kalau nanti lahiran, Bapak G nggak bisa sering nengok aku dan Adek. Jauh dan berat di ongkos 😥. Kasihan, kami nanti pasti saling merindukan. 

Pilihan kedua, di Bandung. Kan bagus aja gitu ya, nanti Adek kalau ngisi biodata nulisnya di Bandung. Tapi setelah dipikir-pikir, kami ini perantau. Tidak ada keluarga di sini. Bisa sih mendatangkan orang tua ke sini, tapi pasti tidak bisa lama-lama, karena mertua ada pekerjaan yang harus diurus. Mamakku juga nggak bisa ninggalin Bapak lama-lama. Kalaupun tetap lahiran di Bandung, aku sudah mencari info biaya lahiran di rumah sakit Bandung. Harganya membuat aku dan Bapak G mengelus dada. Jadi kami putuskan untuk membatalkan niatan penulisan tempat lahir di Bandung untuk Adek Langit :')

Pikir-pikir, pilah-pilih, kami memutuskan untuk lahiran di Klaten saja. Biaya lahiran masih bisa ter-cover. Kalau memakai asuransi dan memilih kelas yang agak bagus, kami mungkin akan membayar biaya lahiran yang masih terjangkau. Selain itu, keluarga Bapak G pada di Klaten semua. Ramai dan ada yg menemani, sekaligus mengajari calon ibu baru ini. Selain itu, Bapak G masih bisa sering nengok. Seminggu atau dua minggu sekali bisa pulang untuk cium Adek. Naik kereta malam dari Bandung, subuh sudah sampai Klaten. 

Setelah lihat daftar rumah sakit di Klaten yang bekerja sama dengan asuransiku, kumulai survey online. Tanya-tanya juga ke keluarga di Klaten. Akhirnya kami putuskan untuk lahiran di RSU Islam Klaten.

Untuk fasilitas kamar sebenarnya sudah lihat-lihat di https://infobed.rsuislamklaten.co.id/ tapi lebih afdol lihat langsung sepertinya. Nanti lah pas pulang mitoni (tujuh bulanan) Adek, kami kepo-kepo lagi. HPLku 06 Januari 2023. Rencana sudah pulang sebelum Natalan. Adek nanti lahirnya di waktu yang tepat, ya. We love you so much, Adek 💙

Minggu, 02 Oktober 2022

Pilah-pilih Obgyn

Sebenarnya aku dan Bapak G cukup santuy dalam pemilihan obgyn. Syarat dokter kandungan dari Bapak G cuma kalau bisa ya beliau perempuan. Enggak yang saklek banget, harus dokter tertentu. Kami juga menyesuaikan dengan dokter yang memang available saat kami ingin kontrol. Karena satu dan lain hal, hampir tujuh bulan Adek dalam rahim, sudah ditengok beberapa obgyn di Bandung. Mari kita bercerita lagi, Nak. 

Saat pertama kali ke dokter kandungan, kami ke RSIA Grha Bunda Antapani - Bandung, dan sebenarnya sudah cocok dengan dr. Anita. Kontrol dua minggu berikutnya pun masih dengan bu dokter. Hanya saja di bulan kedua, dr. Anita berhalangan hadir. Kami sudah booking sebulan sebelumnya (maklum terlalu excited). Pihak rumah sakit baru mengabari di hari H, pukul 2 siang, padahal kami rencana kontrol sepulang aku kerja. Kami terpaksa kontrol dengan dokter kandungan yang praktik saat itu karena vitamin Adek yang diresepkan dokter juga sudah habis. Saat itu kami ke dr. Mulyanusa. Dokternya baik, oke, cuma ya itu, dokternya laki-laki. Hehe. Menurutku Pak Dokter juga kurang detail seperti dr. Anita. Ini penilaianku secara subjektif, sih. Padahal kalau mau detail kan tinggal tanya terus dan minta penjelasan rinci. Dan pak dokter juga kurang keibuan (yaiyalah bunda). 

Bapak G sebenarnya agak bete karena tiba-tiba dr. Anita berhalangan praktik. Ditambah alasan RSIA Grha Bunda terlalu jauh (faktanya hanya 5.3km dari kantor, tapi macet ke arah Antapani itu ampun-ampun), kami memutuskan untuk pindah rumah sakit dan mencari obgyn lain untuk kontrol selanjutnya. Pilihan jatuh ke RSIA Limijati yang wah di tengah kota Bandung. Rumah sakit ini juga masih bekerja sama dengan asuransi kantorku. Dan beruntungnya, ada dokter yang praktik di hari Minggu, hari di mana aku dan Bapak G sama-sama libur kerja. Kami kontrol ke dr. Muliati Wilamarta, Sp. OG. Hari itu rumah sakit ramai sekali, mungkin karena hari Minggu. Dokternya funky, masih muda, bicaranya cepat, ramah, dan lincah sekali. Sama dokter ini, kami dapat foto USG Adek yang paling tjakep 💙.

Umur Adek saat kontrol 16 minggu. Di postingan yang ini, aku sudah cerita kalau aku pipisan. Nah, saat kontrol ini dokter menyarankan untuk tes urine sekaligus tes darah lengkap. Semuanya aman. Cuma limit asuransiku yang nggak aman. Sekali kontrol di Limijati, langsung nyetor dua juta lebih 😅. Tapi emang karena harus bayar biaya tes lab, sih. Sekali kontrol di Grha Bunda kami menghabiskan kurang lebih 500-700ribu saja. Jadi agak shock sih saat lihat bill Limijati. Sebagai perbandingan, di Grha Bunda, biaya konsultasi dokter spesialis berkisar 175ribu s.d. 200ribu (tergantung golongan dokter). Di Limijati, sekali konsultasi harus merogoh kocek 280ribu. Berikut perbandingannya. (Maafkeun mamak-mamak perhitungan ini)

Kontrol berikutnya masih di Limijati dengan dr. Muliati. Sekali kontrol, klaim asuransi sebesar 1,3juta. Itu sudah termasuk salep wasir (karena aku sembelit) dan beberapa vitamin yang nilainya kurang lebih 900rb. Agak mengelus dada, sih. Aku pribadi agak kurang cocok dengan dokternya. Saat mengeluh pipisan, langsung diresepkan obat untuk seminggu karena dikhawatirkan ISK (padahal hasil lab belum keluar; obatnya nggak aku minum). 

Kontrol terakhir di usia Adek 22 minggu, kami akhirnya kembali ke RSIA Grha Bunda yang lebih ramah di kantong 😁. Kami kontrol dengan dr. Fitria Rezianne, SpOG. Dokternya cantik, keibuan, detail, dan oke banget. Udah sreg, nih. Sekali kontrol (sudah termasuk vitamin), habis 400rb-an. Kontrol berikutnya sudah daftar sama dr. Fitria lagi. Semoga ini yang terakhir ya, Dek. Sebelum nanti cari obgyn lagi buat lahiran di Klaten.

Pilah-pilih dokter itu sebenarnya cocok-cocokan, sih. Kalo nggak dokternya, ya rumah sakitnya. Yang jelas, kita semua pasti mau yang terbaik untuk Ibu dan adek bayi. Doakan kami sehat selalu ya, yorobun. Semoga ibu-ibu yang lagi mengandung ataupun menantikan adek bayi, sehat-sehat juga. Sampai ketemu di cerita berikutnya. 


Pilah-pilih Nama Adek

  Apalah arti sebuah nama. "SANGAT BERARTI LAH!" sahutku dan Bapak G. Dari dulu, aku mau nama anak pertamaku Langit. Tapi Bapak G ...