Sebenarnya aku dan Bapak G cukup santuy dalam pemilihan obgyn. Syarat dokter kandungan dari Bapak G cuma kalau bisa ya beliau perempuan. Enggak yang saklek banget, harus dokter tertentu. Kami juga menyesuaikan dengan dokter yang memang available saat kami ingin kontrol. Karena satu dan lain hal, hampir tujuh bulan Adek dalam rahim, sudah ditengok beberapa obgyn di Bandung. Mari kita bercerita lagi, Nak.
Saat pertama kali ke dokter kandungan, kami ke RSIA Grha Bunda Antapani - Bandung, dan sebenarnya sudah cocok dengan dr. Anita. Kontrol dua minggu berikutnya pun masih dengan bu dokter. Hanya saja di bulan kedua, dr. Anita berhalangan hadir. Kami sudah booking sebulan sebelumnya (maklum terlalu excited). Pihak rumah sakit baru mengabari di hari H, pukul 2 siang, padahal kami rencana kontrol sepulang aku kerja. Kami terpaksa kontrol dengan dokter kandungan yang praktik saat itu karena vitamin Adek yang diresepkan dokter juga sudah habis. Saat itu kami ke dr. Mulyanusa. Dokternya baik, oke, cuma ya itu, dokternya laki-laki. Hehe. Menurutku Pak Dokter juga kurang detail seperti dr. Anita. Ini penilaianku secara subjektif, sih. Padahal kalau mau detail kan tinggal tanya terus dan minta penjelasan rinci. Dan pak dokter juga kurang keibuan (yaiyalah bunda).
Bapak G sebenarnya agak bete karena tiba-tiba dr. Anita berhalangan praktik. Ditambah alasan RSIA Grha Bunda terlalu jauh (faktanya hanya 5.3km dari kantor, tapi macet ke arah Antapani itu ampun-ampun), kami memutuskan untuk pindah rumah sakit dan mencari obgyn lain untuk kontrol selanjutnya. Pilihan jatuh ke RSIA Limijati yang wah di tengah kota Bandung. Rumah sakit ini juga masih bekerja sama dengan asuransi kantorku. Dan beruntungnya, ada dokter yang praktik di hari Minggu, hari di mana aku dan Bapak G sama-sama libur kerja. Kami kontrol ke dr. Muliati Wilamarta, Sp. OG. Hari itu rumah sakit ramai sekali, mungkin karena hari Minggu. Dokternya funky, masih muda, bicaranya cepat, ramah, dan lincah sekali. Sama dokter ini, kami dapat foto USG Adek yang paling tjakep 💙.

Umur Adek saat kontrol 16 minggu. Di
postingan yang ini, aku sudah cerita kalau aku
pipisan.
Nah, saat kontrol ini dokter menyarankan untuk tes urine sekaligus tes darah lengkap. Semuanya aman. Cuma limit asuransiku yang
nggak aman. Sekali kontrol di Limijati, langsung nyetor dua juta lebih 😅. Tapi
emang karena harus bayar biaya tes lab,
sih. Sekali kontrol di Grha Bunda kami menghabiskan kurang lebih 500-700ribu saja. Jadi agak
shock sih saat lihat
bill Limijati. Sebagai perbandingan, di Grha Bunda, biaya konsultasi dokter spesialis berkisar 175ribu s.d. 200ribu (tergantung golongan dokter). Di Limijati, sekali konsultasi harus merogoh kocek 280ribu. Berikut perbandingannya. (
Maafkeun mamak-mamak perhitungan ini)

Kontrol berikutnya masih di Limijati dengan dr. Muliati. Sekali kontrol, klaim asuransi sebesar 1,3juta. Itu sudah termasuk salep wasir (karena aku sembelit) dan beberapa vitamin yang nilainya kurang lebih 900rb. Agak mengelus dada, sih. Aku pribadi agak kurang cocok dengan dokternya. Saat mengeluh pipisan, langsung diresepkan obat untuk seminggu karena dikhawatirkan ISK (padahal hasil lab belum keluar; obatnya nggak aku minum).
Kontrol terakhir di usia Adek 22 minggu, kami akhirnya kembali ke RSIA Grha Bunda yang lebih ramah di kantong 😁. Kami kontrol dengan dr. Fitria Rezianne, SpOG. Dokternya cantik, keibuan, detail, dan oke banget. Udah sreg, nih. Sekali kontrol (sudah termasuk vitamin), habis 400rb-an. Kontrol berikutnya sudah daftar sama dr. Fitria lagi. Semoga ini yang terakhir ya, Dek. Sebelum nanti cari obgyn lagi buat lahiran di Klaten.
Pilah-pilih dokter itu sebenarnya cocok-cocokan, sih. Kalo nggak dokternya, ya rumah sakitnya. Yang jelas, kita semua pasti mau yang terbaik untuk Ibu dan adek bayi. Doakan kami sehat selalu ya, yorobun. Semoga ibu-ibu yang lagi mengandung ataupun menantikan adek bayi, sehat-sehat juga. Sampai ketemu di cerita berikutnya.